Pembunuh Bocah yang Bela Ibunya Ternyata Napi Asimilasi

1308
Pelaku SA berhasil diringkus pihak Polsek Birem Bayeun dibantu Polres Langsa pada Minggu 11 Oktober 2020. Foto/iNews TV/M Maulidin

MitraNews.co – Pembunuh Bocah sembilan tahun berinisial RG di Biren Bayeum, Aceh Timur harus RG yang hendak menyelamatkan ibunya dari aksi bejat pemerkosaan yang dilakukan Samsul harus meregang nyawa setelah dibacok sang pelaku.

Miris, dari hasil penyidikan Polres Langsa, pelaku pembunuhan ternyata baru beberapa bulan bebas dari Lapas Tanjung Gusta, Medan setelah mendapatkan asimilasi COVID-19. Kasus pembunuhan terhadap bocah RG pun menuai perhatian publik. RG disebut pahlawan yang melindungi kehormatan orang tuanya.

Menanggapi hal ini, pakar hukum pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar menilai, kasus ini jadi indikator kegagalan konsep pembinaan di lembaga pemasyarakatan. “Over kapasitas LP akibat tidak ada koordinasi yang baik antar aparat di sistem peradilan pidana,” kata Fickar saat dihubungi SINDOnews, Sabtu (17/10/2020).

solusi anda mencari informasi untuk berobat ke malaysia melalui mitramedis.id

Pelaku Pembunuh Bocah tersebut menuturkan, perkara kecil sekali pun jika dibawa ke pengadilan, seharusnya bisa selesai di luar pengadilan dengan pendekatan restoratif justice. Namun karena umumnya pelaku “tidak punya bekal” perkaranya dilanjutkan dari penyidikan sampai dengan ke pengadilan, dan ironisnya pengadilan pun menghukum penjara, akibatnya LP over kapasitas.

Di sisi lain, kelebihan narapidana pun punya akibat lain yaitu kamar LP diduga kerap menjadi komoditi yang diperjualbelikan, akibat yang paling mengerikan tidak ada pembinaan yang serius di dalam LP.

Baca juga : Pembunuh Bocah Rangga dan Pemerkosa Ibunya Tewas di Tahanan, Sempat Sesak Napas

“Dampak yang terjadi maka orang-orang yang masuk penjara bukannya sadar dan insyaf, justru menjadi lebih jahat sebagaimana terjadi pada pelaku di Aceh ini. Dia harus dihukum berat dan maksimal seumur hidup,” katanya.

 

source : sindonews