Ketahanan Pangan Jadi Hal Penting Saat Pandemi

366
Ketahanan Pangan Jadi Hal Penting Saat Pandemi. Foto/Heru Febrianto

JAKARTA, MitraNews.coKetahanan pangan menjadi isu penting di tengah krisis pandemi Covid-19. Pemerintah terus menggenjot sektor pertanian dan hortikultura untuk menyediakan ketersediaan pangan bagi masyarakat. Salah satu langkah yang dilakukan yaitu membangkitkan lahan-lahan yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan budi daya. Upaya tersebut juga dilakukan Badan Restorasi Gambut (BRG) dengan menggandeng kelompok masyarakat (pokmas) di beberapa daerah.

Salah satu kerja samanya yaitu penanaman 24 ribu sagu di lahan seluas 100 hektare di empat desa di Kecamatan Meranti, Kabupaten Kepulauan Meranti, Kepulauan Riau. Empat desa itu di antaranya, Desa Mayang Sari, Desa Mekar Sari, Desa Bagan Melibur, dan Desa Sungai Anak Kamal.

Masing-masing desa terdapat dua pokmas dan pokmas ini menggarap lahan gambut di luar wilayah konservasi. Kelompok Kerja Restorasi Wilayah Sumatera BRG, Soesilo Indrarto mengatakan, pemilihan jenis tanaman sagu menyesuaikan kondisi lahan dan kultural masyarat.

perwakilan-rumah-sakit-malaysia-di-indonesia

“Memang daerah itu punya potensi sagu, tapi tidak digali. Kita ingin membantu, diversifikasi produk hanya secara lokal hanya dijadikan makanan sagu,” ujar Soesilo dalam rilisnya di Jakarta, Jumat (28/8/2020).

Soesilo mengatakan, sagu cocok ditanam di lahan gambut basah. Penanaman sagu tidak perlu pengeringan lahan, yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan. “Kalau di situ masyarakat sudah senang merasa menguntungkan menanam komoditas sagu itu, dengan sendirinya menjaga kebasahan lahan itu,” kata dia.

Soesilo mengatakan, bibit sagu untuk ditanam terbagi dua. “Kita pisah daerah yang tergenang air itu dengan jenis sagu berduri, yang daerah terendam musiman dengan bibit yang tidak berduri itu,” ujar dia.

Baca Juga : https://mitramedis.id/category/rumah-sakit/

Soesilo mengatakan, penanaman sagu ini juga berhubungan dengan proses pengembangan pakan ternak berbahan sagu. Pakan ternak yang dikembangkan ini menggunakan sagu parut kering atau sapuring. Diharapkan, sagu dapat memenuhi penyediaan sapuring. “Sehingga nantinya bisa berkelanjutan,” ucap dia.

Soesilo mengatakan, di bulan Agustus 2020 ini, dia dan tim akan melakukan pengujian ransum pakan ternak berbahan sagu ini ke ayam, sapi, itik, dan lainnya dengan membuat demonstrasi plot (demplot). Diharapkan, uji ransum ini bisa sesuai dengan kebutuhan ternak.

Kepala Desa Bagan Berlibur, Isnadi mengatakan, sapuring ini rencananya dikelola Bumdes dan pemasarannya hingga ke Kepulauan Riau, Tanjung Pinang, Batam dan Bintan. Melihat potensi ini, kata Isnadi, warga terpacu dalam penanaman bibit sagu di lahan gambut seluas 100 hektare ini. “Masyarakat sangat semangat kalau pembiayaan dibantu. Kalau swadaya, dengan lahan 25 hektare biayanya lumayan,” kata Isnadi.

Isnadi mengatakan, penanaman sagu juga bermanfaat untuk mengawasi sumber api. Sebab, kata dia, kawasan gambut di Kecamatan Meranti dikenal sangat rawan kebakaran. “Itu awal 2020 masih ada sekitar 25 hektare yang terbakar karena kondisinya emang semak-semak belukar gitu,” ucap dia.

Isnadi mengatakan, penanggulangan lahan gambut memang jadi prioritas di desanya. Berdasar APBDes 2019 dan 2020, pemerintah Desa Bagan Melibur mengalokasikan dana desa untuk pengadaan sarana penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di area gambut dengan ministrack dan alat penunjang lainnya.

Untuk tahun anggaran 2019, pemerintah Desa Bagan Melibur menganggarkan dana sebesar Rp20 juta untuk penyediaan pos kesiapsiagaan bencana kebakaran gambut. Pada 2020 ini, dana sebesar Rp40 juta digelontorkan untuk penyiapan ministrack dan Rp3 juta untuk pengadaan bibit pertanian gambut PLTB.

Koordinator Pokmas Mekar Sari, Junaedi, memandang program kerja sama BRG dan masyarakat ini membuka peluang kerja baru bagi masyarakat. Beberapa orang mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Malaysia bisa kembali mencari nafkah di desa tempat asal mereka melalui program ini. “Ya tidak TKI saja, tapi juga warga yang tidak bekerja akhirnya bisa mendapat nafkah,” jelas dia.

Junaedi mengaku senang program ini turut menyadarkan masyarakat mengenai legalitas tanah. Dia mengaku, banyak warga yang mulai mendaftarkan lahannya. Pemanfaatan sagu sebagai tanaman untuk ketahanan pangan merupakan langkah strategis.

Menurut Sekretaris Dewan Ketahanan Pangan, Ide Agung, Indonesia memiliki potensi sagu terbesar di dunia yang mencapai 5,5 juta hektare dari total 6,5 juta hektare lahan sagu dunia. “Sagu adaptif terhadap perubahan iklim dan juga penyelamat pangan di masa depan,” kata Agung.

 

Source: sindo