Demonstran di Amerika Serikat Tuntut Reformasi Kepolisian

302
Seorang demonstran berhadapan dengan pasukan polisi dan tentara yang melemparkan gas air mata untuk membubarkan para demonstran di Seattle, Washington, Amerika Serikat, kemarin. Foto/REUTERS

WASHINGTON, MitraNews.co – Demonstrasi di Amerika Serikat (AS) kini menyerukan reformasi di organisasi kepolisian yang menyebabkan kematian George Floyd, warga kulit hitam. Mereka juga menyerukan agar rasisme segera dihapus di segala lini kehidupan warga AS.

Demonstrasi yang telah berlangsung selama dua pekan di AS itu menjadi magnet untuk menuntut perubahan di AS yang lebih baik dalam hal rasisme. Kini, sebagian besar demonstrasi tidak disertai dengan kekerasan dan sangat kontras dengan aksi sebelumnya.

“Saya memiliki banyak keluarga yang bekerja di kepolisian. Saya yakin dengan kepolisian,” kata pensiunan Angkatan Udara AS Nikky Williams, dilansir Reuters. “Saya berpikir kalau reformasi akan segera terwujud,” ujarnya.

Tuntutan demonstran itu langsung direspons Dewan Kota Minneapolis, AS. Mereka berjanji merombak departemen kepolisian setempat, sebuah langkah penting di tengah protes nasional. Sembilan dari 13 anggota dewan mengatakan konsep baru tentang keselamatan publik akan digodok di sebuah kota yang para penegak hukumnya dituduh melakukan aksi rasisme.

Wali Kota Minneapolis Jacob Frey sebelumnya menentang langkah itu sehingga sempat menuai kritik. Para aktivis, yang selama bertahun-tahun mengampanyekan langkah semacam itu, menyebutnya sebagai sebuah titik balik. Namun demikian, sejumlah pihak menganggap langkah ini bakal menjadi perdebatan panjang dan rumit.

“Jelas, sistem kepolisian dan keamanan publik kami saat ini tidak menjaga keamanan komunitas kami,” kata Presiden Dewan Minneapolis, Lisa Bender, dilansir BBC. “Berbagai upaya yang kami lakukan telah gagal,” katanya.

Bender mengatakan rencana detail untuk mereformasi departemen kepolisian akan dibicarakan lebih lanjut seraya menambahkan bahwa dia akan mencoba mengalihkan anggaran polisi kepada kebijakan strategis berbasis masyarakat.

Sementara itu, anggota dewan Alondra Cano mencuit dalam Twitter-nya bahwa mayoritas anggota dewan sepakat bahwa departemen kepolisian di kota itu tidak dapat direformasi dan bahwa mereka akan menyudahi sistem kepolisian saat ini.

Pekan lalu, Minnesota meluncurkan penyelidikan hak-hak sipil terhadap Departemen Kepolisian Minneapolis dan Gubernur Tim Walz mengatakan dia ingin membasmi “rasisme sistemik”. Dewan kota kemudian memberikan suara untuk dilakukan beberapa perubahan di tubuh kepolisian, termasuk larangan aparat polisi menindih dan menekan leher tersangka.

Menanggapi pengumuman itu, Kandace Montgomery, pimpinan Black Vision, kelompok yang mengampanyekan antirasisme di Minnesota, mengatakan seharusnya tidak perlu sampai banyak korban meninggal untuk membawa demonstran beraksi. “Kami lebih aman tanpa patroli bersenjata yang didukung negara yang memburu warga kulit hitam,” ujarnya.

Secara nasional, Partai Demokrat di kongres direncanakan akan mengajukan undang-undang tentang reformasi kepolisian.

Wali Kota New York Bill de Blasio mengatakan akan mengalihkan dana dari kepolisian kota ke berbagai layanan sosial kepada kelompok etnis berwarna. “Serangkaian reformasi yang didesain untuk membangun kepercayaan antara penduduk dan departemen kepolisian,” katanya.

Langkah Blasio sebagai respons atas seruan “defund the police” atau seruan menghentikan aliran dana terhadap institusi kepolisian diteriakkan dalam berbagai unjuk rasa baru-baru ini, yang terkadang pecah menjadi kekerasan dan penjarahan. Para pendukung “defunding” selama bertahun-tahun telah mengutuk apa yang mereka sebut sebagai kepolisian militer yang agresif di AS.

Mereka berpendapat bahwa anggaran departemen kepolisian harus dipotong dan dana dialihkan ke program sosial untuk menghindari konfrontasi yang tidak perlu dan memulihkan kesenjangan rasial.

Sebelumnya, kematian Floyd di tangan polisi telah memicu gelombang protes antirasisme yang berlangsung hingga sekarang di sejumlah negara. Pemakaman Floyd dijadwalkan pada hari Selasa (9/6) di Houston, kota kelahirannya sebelum dia pindah ke Minneapolis.

Unjuk rasa berawal setelah muncul video yang menayangkan warga Amerika berkulit hitam berusia 46 tahun itu dijepit lehernya di aspal, seorang polisi kulit putih menekan lehernya dengan lutut selama hampir sembilan menit. Derek Chauvin sudah dipecat dan didakwa dengan pasal pembunuhan. Tiga petugas polisi lainnya yang berada di tempat kejadian juga telah dipecat dan didakwa membantu dan bersekongkol.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini